Review Film Dune Untuk Memenuhi Kaidah Seni Sinema

Salah satu materi paling potensial sekalian susah untuk dilayarlebarkan bernama Dune, novel fiksi ilmiah karya Frank Herbert (1965), dulu dipublikasikan dalam dua seri di majalah Analog. Legendary Pictures dan Warner bukan pihak pertama yang terpengaruh pada Dune.

Pada dekade 1970-an, sineas Alejandro Jodorowsky menjajal memfilmkan Dune. Mengembangkan naskah tiga tahun lamanya diikuti dengan “mengembangnya” biaya produksi, proyek ini lalu kandas. David Lynch memberanikan bikin Dune versi layar lebar namun berujung cibiran.

Hampir 40 tahun berlalu, Dune kembali tiendasdeconveniencia.org dilirik dengan Denis Villeneuve sebagai sutradara. Seperti kita tahu, Dune versi terkini (di luar posternya yang meh itu) panen kebanggaan. Sebagus itukah Dune versi Denis Villeneuve? Berikut ulasan film Dune versi kami.

Terbang ke Planet Arrakis
Ialah planet Arrakis yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, sumber daya alam paling berharga di jagat raya. Selama 80 tahun planet dengan gurun eksotis ini dikontrol klan Harkonnen yang dipimpin Baron Vladimir (Stellan Skarsgard).

Oleh kaisar, Arrakis lalu dipercayakan kepada Duke Leto Atreides (Oscar Isaac). Ia membawa istri, Lady Jessica (Rebecca Ferguson) dan sang pewaris takhta, Paul Atreides (Timothee Chalamet) ke Arrakis. Merajai Arrakis tidak semudah yang dibayangkan.

Leto berinteraksi intens dengan sejumlah punggawa seperti Gurney Halleck (Josh Brollin), Duncan Idaho (Jason Momoa), hingga dokter Yueh (Chang Chen). Tak dinyana terjadi pengkhianatan yang memaksa Lady Jessica dan Paul mengungsi.

Rekam Jejak Denis Villeneuve
Dengan bantuan Liet Kynes (Sharon Duncan-Brewster), keduanya kabur lalu menghadapi Fremen, penduduk asli Arrakis. Di sana, Paul berjumpa Chani (Zendaya) gadis yang ia “ketahui” via sebuah penglihatan. Kedatangan Lady Jessica dan Paul tidak diterima oleh komunitas Fremen semacam itu saja.

Bagi yang belum menonton Dune, izinkan kami memberi kiat untuk cek rekam jejak Denis Villeneuve sebagai sutradara. Adakah di antara tumpukan film Denis yang pernah Anda tonton? Seandainya ya, bagaimana rasanya? Kami pernah menonton Arrival dan Prisoners.

Terhadap keduanya kami jatuh hati. Tempo yang cenderung lambat terasa selaras dengan penyutingan. Tuturan cerita terasa rinci, runut, dengan akting para pemain yang duhai. Wajar ketika Oscars mendepak Amy Adams (Arrival) dari bursa Pemeran Utama Wanita Terbaik 2017, banyak yang mempertanyakan dan mencak-mencak. Di tangan Denis, Amy memang sebagus itu.

Enggak Kaleng-kaleng
Denis juga pernah menggarap Blade Runner 2049 yang canggih dari aspek sinematografi dan efek visual. Serbaindah dan glamor, panen kebanggaan kritikus, namun daya kerja box office-nya masuk golongan untung tipis. Bisa jadi, ada yang “salah” dengan film ini hingga bikin awam pusing karenanya.

Dune, tanpa mengurangi respek kami kepada sumber aslinya yang dahsyat, dapat jadi bernasib serupa. Satu jam dan 10 menit awal, Dune berisi perkenalan tokoh. Nyaris tanpa konflik dan untuk ukuran film berdurasi 155 menit, sejujurnya terasa bertele-tele.

Memang, kita dipukau dengan tata kostum dengan rinci, pewarnaan, format hingga cutting yang sanggup menggarisbawahi latar belakang karakter. Artistiknya pun enggak kaleng-kaleng.

Unsur Sinema Kelas Dunia
Dune yang secara bebas diistilahkan padang pasir diterjemahkan dalam warna earthy dan turunannya. Bergerak dari warna hitam, suram baja, coklat dengan kerabatnya, dan nyaris tanpa warna gonjreng. Tiap wilayah yang dihuni komunitas dibuatkan peradaban.

Dengan melihatnya, kita tahu sedang menjelang daerah kekuasaan siapa. Belum lagi sinematografi yang tidak sekedar menawan. Bidikan kamera Greig Fraser adalah pintu gerbang bagi audiens untuk menjelang dunia Dune yang luas dan membuat kita berkali-kali terasa seperti serpihan saja.

Seluruh faktor ini membuat Dune berhasil menjadi karya seni kelas dunia. Ia menyempurnakan versi 1984 bukan hanya dari aspek teknologi, namun kaidah sinema secara keseluruhan.

Tentang Penulis

admin7